Arti Kata "tungkul" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "tungkul" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

tungkul

1tung·kul, me·nung·kul v 1 kl mengaku kalah; tunduk; takluk; 2 (diam) menundukkan kepala; tumungkul;
pe·nung·kul n pemberian tanda sudah takluk; upeti

2tung·kul ? 1tongkol

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "tungkul"

📝 Contoh Penggunaan kata "tungkul" dalam Kalimat

1.Pada acara resmi, dia mengaku kalah setelah musuh politiknya menang dalam pemilu.
2.Dia tunduk atas keputusan orang tua dan tidak memprotes lagi.
3.Pada masa kolonial, bangsa pribumi membayar upeti kepada penjajah untuk tidak diserang.
4.Dia menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan.
5.Dalam budaya adat, pemberian upeti kepada kepala suku merupakan tanda hormat dan persetujuan.

📚 Artikel terkait kata "tungkul"

Mengenal Kata 'tungkul' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "tungkul" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "tungkul" memiliki makna yang kaya dan kompleks dalam bahasa Indonesia. Dalam konteks historis, kata ini digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang mengaku kalah atau tunduk terhadap lawan mereka. Dalam arti yang lebih luas, "tungkul" juga dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan diam atau menundukkan kepala. Pada masa lalu, "tungkul" digunakan sebagai bentuk pengakuan kekalahan atau kalah dalam perang atau pertempuran. Seseorang yang mengaku kalah dengan menundukkan kepala atau memberikan upeti kepada lawan mereka dipandang sebagai tanda kekalahan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, "tungkul" juga dapat digunakan dalam konteks yang lebih positif, seperti mengakui kelemahan atau kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki diri. Contoh penggunaan kata "tungkul" dalam kalimat yang alami adalah sebagai berikut: - Saya harus tungkul kepada lawan saya karena saya tidak bisa menangkap lawannya. - Setelah kalah, dia harus tungkul dan mengakui kesalahannya. - Di dalam permainan, saya harus tungkul dan menyerah karena saya tidak bisa menang. Dalam kehidupan sehari-hari, "tungkul" masih memiliki relevansi yang signifikan. Dalam kehidupan profesional, mengakui kelemahan atau kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki diri adalah penting untuk maju dan sukses. Dalam kehidupan pribadi, mengakui kekalahan atau kelemahan adalah langkah pertama untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik. Dengan demikian, "tungkul" tetap menjadi kata yang relevan dan inspiratif dalam kehidupan kita sehari-hari.