Arti Kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa

diberi sejengkal hendak se.has.ta diberi se.has.ta hendak sedepa Peribahasa diberi sedikit lalu hendak minta lebih banyak lagi

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa"

📝 Contoh Penggunaan kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa" dalam Kalimat

1.Pemimpin negara yang diberi kekuasaan sedikit lalu ingin mengambil kekuasaan total.
2.Politisi yang diberi kepercayaan sejengkal, lalu berharap mendapatkan lebih banyak lagi.
3.Seorang anak yang baru saja diberi mainan sejengkal, kemudian menangis minta mainan lainnya yang lebih besar.
4.Pekerja yang diberi gaji sejengkal, lalu berharap mendapatkan gaji yang lebih besar.
5.Karyawan yang diberi tanggung jawab sedikit, kemudian berharap mendapatkan kenaikan jabatan lebih tinggi.

📚 Artikel terkait kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa"

Mengenal Kata 'diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa" adalah salah satu peribahasa dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna yang sangat dalam. Peribahasa ini berarti 'diberi sedikit lalu hendak minta lebih banyak lagi'. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang merasa tidak puas dengan apa yang telah diberikan kepada mereka dan selalu menginginkan lebih banyak lagi. Peribahasa ini memiliki konteks historis yang terkait dengan kebiasaan masyarakat tradisional di Indonesia, di mana orang-orang seringkali menerima hadiah atau bantuan dari orang lain dalam jumlah yang terbatas. Namun, mereka tidak puas dengan apa yang telah diberikan dan selalu berharap untuk menerima lebih banyak lagi. Perilaku ini masih dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia modern, di mana orang-orang seringkali merasa tidak puas dengan apa yang telah mereka capai dan selalu berharap untuk mencapai lebih banyak lagi. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa" dalam kalimat yang alami: - "Dia diberi sejengkal uang dari pamannya, tetapi dia masih ingin lebih banyak lagi dan tidak puas dengan apa yang telah diberikan." - "Perusahaan itu hanya memberikan bonus kecil kepada karyawannya, namun beberapa karyawan masih mengeluh dan mengatakan bahwa itu tidak cukup, seperti diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa." - "Dia mendapatkan tawaran pekerjaan yang cukup baik, tetapi dia masih ingin lebih tinggi dan tidak puas dengan apa yang telah diberikan, seperti diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa." Penggunaan kata "diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa" dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan kita pelajaran bahwa kita harus menghargai apa yang telah kita dapatkan dan tidak selalu mengharapkan lebih banyak lagi. Kita harus belajar untuk puas dengan apa yang telah kita capai dan tidak selalu menginginkan lebih banyak lagi.