Arti Kata "akseptabilitas" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "akseptabilitas" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

akseptabilitas

ak·sep·ta·bi·li·tas /akséptabilitas/ n hal dapat diterima; keberterimaan: -- istilah itu masih perlu diuji

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "akseptabilitas"

📝 Contoh Penggunaan kata "akseptabilitas" dalam Kalimat

1.akseptabilitas dari produk tersebut masih rendah di pasaran.
2.Penting untuk memperhatikan akseptabilitas ide tersebut dalam masyarakat.
3.Konsep keberlanjutan harus memperhitungkan akseptabilitas lingkungan.
4.Pentingnya akseptabilitas dalam merancang kebijakan publik tidak bisa diabaikan.
5.akseptabilitas terhadap perubahan tersebut masih dalam tahap pengkajian.

📚 Artikel terkait kata "akseptabilitas"

Pengertian dan Contoh Akseptabilitas Menurut KBBI

Akseptabilitas: Pengertian dan Signifikansinya

Akseptabilitas merujuk pada tingkat penerimaan atau kelayakan suatu ide, produk, atau kebijakan di masyarakat atau lingkungan tertentu. Konsep ini mencakup seberapa baik suatu hal dapat diterima atau disetujui oleh orang-orang yang terlibat. Akseptabilitas juga mencerminkan tingkat persetujuan atau dukungan terhadap suatu konsep atau tindakan.

Dalam konteks bisnis, akseptabilitas sangat penting karena dapat memengaruhi tingkat penjualan dan keberlanjutan usaha. Produk yang memiliki akseptabilitas tinggi cenderung lebih diminati oleh konsumen dan memiliki pangsa pasar yang lebih luas. Sebaliknya, produk dengan akseptabilitas rendah mungkin mengalami kesulitan dalam bersaing di pasaran.

Akseptabilitas juga menjadi pertimbangan penting dalam pembuatan kebijakan publik. Sebuah kebijakan yang tidak memiliki akseptabilitas yang baik di mata masyarakat dapat menimbulkan resistensi dan konflik. Oleh karena itu, dalam merancang kebijakan, penting untuk memperhitungkan seberapa akseptabel kebijakan tersebut bagi berbagai pihak yang terlibat.

Dalam konteks sosial, akseptabilitas juga berperan dalam membangun hubungan yang harmonis antara individu atau kelompok. Kemampuan untuk menerima perbedaan pendapat atau keberagaman merupakan indikator akseptabilitas yang tinggi. Dengan meningkatkan akseptabilitas terhadap keberagaman, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan toleran.

Akseptabilitas tidak hanya mencakup aspek penerimaan atau persetujuan, tetapi juga melibatkan proses komunikasi dan dialog yang baik. Dengan memahami dan menghargai pandangan orang lain, kita dapat meningkatkan akseptabilitas dalam berbagai konteks kehidupan. Dengan demikian, akseptabilitas menjadi kunci dalam membangun hubungan yang harmonis dan menciptakan perubahan yang positif dalam masyarakat.