Arti Kata "fani" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "fani" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

fani

fa·ni a menjadi fana; bersifat fana

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "fani"

📝 Contoh Penggunaan kata "fani" dalam Kalimat

1.Bahasa yang fani, tidak bertahan selamanya, akan tergantikan dengan bahasa yang baru.
2.Dia mengatakan bahwa kekayaan yang fani tidak dapat membawa kita ke surga.
3.Dalam filsafat, konsep kebenaran yang fani mengacu pada kebenaran yang bersifat sementara.
4.Ilmu pengetahuan yang fani tidak dapat dipercaya, karena selalu berubah dan berkembang.
5.Kebangkitan yang fani harus dipahami sebagai kebangkitan yang tidak terulang lagi dalam sejarah.

📚 Artikel terkait kata "fani"

Mengenal Kata 'fani' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Fani" - Inspirasi dari Dunia Filosofi

Kata "fani" memiliki makna yang sangat dalam dalam bahasa Indonesia, yaitu "fa•ni a menjadi fana; bersifat fana". Makna ini berasal dari kata Arab yang berarti "sifat fana" atau "bersifat sementara". Dalam konteks sejarah, kata ini digunakan dalam filosofi Sufi untuk menggambarkan sifat sementara dari dunia material.

Contoh Penggunaan Kata Fani dalam Kalimat

Kata "fani" sering digunakan dalam kalimat untuk menggambarkan sifat sementara dari kehidupan. Berikut beberapa contoh: - "Dunia ini bersifat fani, jadi kita harus mengingat bahwa segala sesuatu ada sementara." - "Kehidupan ini seperti bayangan, bersifat fani dan tidak permanen." - "Segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat fani, jadi kita harus menikmati setiap momen dengan baik."

Relevansi Kata Fani dalam Kehidupan Sehari-Hari

Kata "fani" memiliki relevansi yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam budaya Indonesia modern, kata ini sering digunakan dalam konteks spiritual untuk mengingatkan kita bahwa kehidupan ini hanya sementara. Maka dari itu, kita harus menikmati setiap momen dengan baik dan tidak terpaku pada materialisme. Dengan mengingat sifat fani dari dunia ini, kita dapat menjadi lebih bijak dan tidak terjebak dalam kesesatan materialisme.