Arti Kata "picit" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "picit" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

picit

pi·cit v, me·mi·cit v memencet;
~ rakyat, ki memeras rakyat;
ter·pi·cit v 1 sudah dipicit; terpijat; 2 tertekan;
pi·cit·an n 1 hasil memijit; pijatan; 2 hasil menekan

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "picit"

📝 Contoh Penggunaan kata "picit" dalam Kalimat

1.Pemimpin mencoba memeras rakyat dengan meningkatkan pajak.
2.Dia terpi·cit secara emosional setelah mendengar kabar tentang kehilangan keluarganya.
3.Pengusaha memanfaatkan kesempatan untuk memicit para pekerja dengan upah yang rendah.
4.Tindakan pemerintah membuat para pelajar merasa terpi·cit karena keterbatasan sumber belajar.
5.Pijatannya sangat nyaman sehingga saya merasa sangat terpi·cit dan rileks.

📚 Artikel terkait kata "picit"

Mengenal Kata 'picit' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "picit" - Makna dan Konteks dalam Bahasa Indonesia

Kata "picit" memiliki makna yang unik dalam bahasa Indonesia. Secara harfiah, kata ini berarti memencet atau menekan, tetapi dalam konteks sosial dan budaya, picit memiliki makna yang lebih dalam. Dalam bahasa Indonesia kuno, kata picit digunakan untuk menggambarkan proses memeras rakyat atau mengambil keuntungan dari mereka. Penggunaan kata picit dalam bahasa Indonesia modern dapat dilihat dalam beberapa kalimat. Misalnya, "Rakyat merasa terpicit oleh pemerintah yang membebankan pajak yang tinggi." atau "Dia merasa terpicit oleh hutang yang besar." Dalam kedua kalimat tersebut, kata picit digunakan untuk menggambarkan perasaan rakyat yang terpaksa menanggung beban yang berat. Dalam kehidupan sehari-hari, kata picit memiliki relevansi yang signifikan. Misalnya, ketika kita merasa terpicit oleh tekanan kerja yang berat, kita merasa perlu mencari jalan keluar untuk mengurangi beban tersebut. Dalam budaya Indonesia modern, kata picit juga digunakan dalam konteks ekonomi, seperti ketika perusahaan memeras nasabah dengan bunga pinjaman yang tinggi.