Arti Kata "kekitir" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "kekitir" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

kekitir

ke·ki·tir n tanda pemilikan tanah dan besarnya pajak (tanah) yg harus dibayar

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "kekitir"

📝 Contoh Penggunaan kata "kekitir" dalam Kalimat

1.Kami harus mencari kekitir yang hilang untuk mengetahui besarnya pajak tanah yang harus dibayar.
2.Pemerintah telah menerbitkan kekitir baru untuk menentukan nilai tanah yang lebih tepat.
3.Pada tahun 1945, negara Indonesia memiliki sistem kekitir yang berbeda dari penjajah Belanda.
4.Dalam sejarah, kekitir digunakan sebagai bukti kepemilikan tanah oleh bangsawan dan raja-raja.
5.Siswa harus memahami konsep kekitir dalam pelajaran ilmu tanah dan perbandingan pajak.

📚 Artikel terkait kata "kekitir"

Mengenal Kata 'kekitir' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "kekitir" - Tanda Pemilikan Tanah yang Penting

Dalam bahasa Indonesia, kata "kekitir" memiliki arti yang sangat spesifik dan memiliki konteks historis yang menarik. Sejak zaman kolonial Belanda, kekitir digunakan sebagai tanda pemilikan tanah dan besarnya pajak (tanah) yang harus dibayar. Dengan demikian, kekitir menjadi salah satu aspek penting dalam hukum tanah di Indonesia. Dalam praktiknya, kekitir digunakan sebagai simbol untuk menunjukkan bahwa tanah tersebut sudah dipisahkan dari tanah umum dan telah menjadi properti pribadi. Selain itu, kekitir juga menunjukkan besarnya pajak yang harus dibayar kepada pemerintah. Dengan demikian, kekitir menjadi sangat penting dalam menjaga hak milik tanah dan memperoleh pajak yang tepat. Contoh penggunaan kata kekitir dalam kalimat yang alami adalah seperti ini: "Tanah itu memiliki kekitir yang besar, sehingga pajak yang harus dibayar juga sangat besar." Dalam contoh ini, kekitir digunakan untuk menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki ukuran yang besar dan harus membayar pajak yang lebih besar. Selain itu, kekitir juga digunakan dalam kalimat seperti: "Perlu diingat bahwa kekitir tidak sama dengan hak milik tanah, karena kekitir hanya menunjukkan besarnya pajak yang harus dibayar." Dalam kehidupan sehari-hari, kekitir masih sangat relevan dalam budaya Indonesia modern. Banyak orang yang masih menggunakan kekitir sebagai tanda pemilikan tanah dan besarnya pajak yang harus dibayar. Selain itu, kekitir juga digunakan dalam konteks hukum dan peraturan yang terkait dengan tanah dan pajak. Dengan demikian, kekitir tetap menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia.