Arti Kata "favoritisme" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "favoritisme" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

favoritisme

fa·vo·rit·is·me n pengunjukan rasa suka, senang, kasih, dsb thd seseorang

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "favoritisme"

📝 Contoh Penggunaan kata "favoritisme" dalam Kalimat

1.Pemerintah harus menghindari praktik favoritisme dalam pengalokasian dana pembangunan.
2.Kebijakan favoritisme yang berlebihan dapat merugikan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
3.Dia selalu memberikan kesempatan yang sama bagi setiap murid, tidak mempraktikkan favoritisme dalam mengajar.
4.favoritisme dalam perekrutan karyawan dapat menimbulkan perasaan tidak adil di antara para pelamar.
5.Dalam budaya Melayu, istilah "bagi-bagi raya" sering digunakan untuk menghindari praktik favoritisme dalam berbagi harta.

📚 Artikel terkait kata "favoritisme"

Mengenal Kata 'favoritisme' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Favoritisme" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "favoritisme" seringkali digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah Anda tahu apa itu favoritisme secara resmi? Favoritisme adalah pengunjukan rasa suka, senang, kasih, atau perhatian khusus kepada seseorang atau sesuatu, biasanya karena alasan tertentu. Favoritisme memiliki sejarah yang panjang dan kompleks. Pada masa lalu, favoritisme seringkali digunakan oleh penguasa untuk mempengaruhi keputusan dan kebijakan pemerintahan. Mereka akan memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang mereka anggap setia atau berbakat, sementara orang lain diabaikan. Hal ini seringkali menyebabkan konflik dan ketidakadilan. Dalam konteks modern, favoritisme masih ada, tetapi dalam bentuk yang lebih halus. Misalnya, seorang atlet yang memiliki talenta luar biasa mungkin akan mendapat perhatian lebih banyak dari pelatih dan manajemen. Favoritisme juga seringkali terkait dengan konsep "kecurangan" dalam konteks permainan olahraga. Contohnya, "Pelatih menggunakan favoritisme dalam memilih pemain untuk bermain". Atau, "Pemain tersebut mendapat favoritisme dari hakim dalam pertandingan". Favoritisme juga dapat dilihat dalam konteks sosial, seperti "Dia mendapat favoritisme dari bosnya karena sifat yang ramah". Dalam budaya Indonesia modern, favoritisme seringkali terkait dengan konsep "kedekatan" dan "kerabat". Misalnya, "Dia mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan karena kerabatnya yang bekerja di sana". Dalam kehidupan sehari-hari, favoritisme seringkali menimbulkan konflik dan ketidakadilan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan menghindari favoritisme dalam berbagai konteks. Dengan demikian, kita dapat menciptakan suasana yang lebih adil dan transparan.